Kolesterol dan Trigliserida, Ini Bedanya!

2 tahun yang lalu

Kebanyakan orang masih bingung membedakan antara kolesterol dan trigliserida. Beberapa bahkan menganggap mereka sama, padahal tidak. Namun, tingkat trigliserida dan kolesterol yang tinggi dalam darah sama berbahayanya bagi kesehatan karena keduanya dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Jika dilihat dari jenis dan tugasnya dalam tubuh, trigliserida dan kolesterol sangatlah berbeda.

Seperti dipaparkan oleh dr. Benjamin Wedro, profesor dari University of Wisconsin-Madison, trigliserida dan kolesterol adalah jenis lemak terpisah yang beredar dalam darah. Jika trigliserida bertugas menyimpan kalori yang tidak terpakai dan menyediakan energi untuk tubuh, kolesterol memiliki peran yang berbeda. Kolesterol digunakan oleh tubuh untuk membangun sel dan hormon tertentu. Karena trigliserida dan kolesterol tidak bisa larut dalam darah, mereka akan beredar ke seluruh tubuh dengan bantuan protein yang mengangkut lipid (lipoprotein).

Dr. Danya L. Dinwoodey, MD, seorang ahli jantung di Lahey Clinic, menuturkan bahwa ketika seseorang makan, tubuhnya akan mengubah kalori menjadi trigliserida. Maka, konsumsi kalori yang terlalu tinggi dapat meningkatkan level trigliserida, yang kemudian disebut hipertrigliseridemia.

Kolesterol tinggi Vs trigliserida tinggi

Untuk mencegah efek negatif dari trigliserida, Dr. Pat F. Bass, MD, MPH, seorang profesor dan pediatri di Louisiana State University Health Services Center-Shreveport, menyarankan agar tingkat trigliserida harus kurang dari 150 mg/dL; atau sampai pada batas 199 mg/dL. Sementara lebih dari 200 mg/dL sudah dianggap tinggi, lebih dari 500 mg/dL merupakan level yang sangat berbahaya.

Faktor-faktor yang perlu dihindari karena dapat meningkatkan kadar trigliserida, termasuk kelebihan berat badan, kurang gerak, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan penggunaan obat-obatan tertentu. Meski begitu, kelainan genetik juga dapat membuat seseorang menderita hipertrigliseridemia.

Karena genetik setiap orang berbeda, dr. Robert S. Rosenson, MD, direktur penelitian gangguan lipoprotein dan aterosklerosis di University of Michigan, menilai itu akan memiliki efek yang tidak sama pada kondisi masing-masing pasien. Contohnya, dr. Robert membandingkan salah seorang pasiennya yang memiliki kolesterol total 175, dengan HDL 25, dan dia berisiko tinggi menderita penyakit kardiovaskular. Sebaliknya, pasien lain yang memiliki total kolesterol total 240 dengan HDL 65 tidak meningkatkan risiko yang sama.

Jadi, baik kolesterol atau pun trigliserida, keduanya hanya bisa dideteksi dengan tes darah. Tes yang digunakan untuk mengukur trigliserida disebut profil lipid atau panel lipid. Tes ini juga dapat mengukur tingkat kolesterol total, kolesterol LDL dan kolesterol HDL.