Insomnia Bagaimana Diatasi?

Semakin maju sebuah komunitas, semakin banyak dan sering bermunculan kasus insomnia. Obat tidur sering menjadi pelarian apabila mengalami insomnia, dimana yang tanpanya hidup menjadi tidak nyaman. Kita perlu mengenalinya agar terhindar dari insomnia dan perlu menanggulanginya andai sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Bagaimana caranya kita bahas di bawah ini.
Tidak semua yang susah tidur berarti mengalami insomnia. Sesekali tidak bisa tidur wajar saja jika kemudian dengan sendirinya dapat tidur normal kembali. Disebut kasus insomnia apabila kesulitan tidur untuk waktu lama dan memerlukan intervensi pihak medik.
 

Sulit jatuh tidur
Kebanyakan kasus insomnia mengalami kesulitan untuk jatuh tidur. Tentu berbeda dengan yang mudah jatuh tidur, tapi mudah terjaga lagi. Penyebab yang tidak sama memerlukan penanganan yang berbeda.
Ada orang yang terganggu pola tidurnya sejak muda. Tipe ini mengalami gangguan dalam neurotrasnmitter di otaknya. Susah tidur sejak muda biasanya tidak mengganggu, karena pola tidurnya saja yang berbeda. Kasus demikian bisa direset ulang biorhythm irama biologis hariannya (circadian). Hal yang sama lazim dialami pekerja malam yang selalu bertukar jam kerjanya.
Pola tidur itu dapat dibentuk dimana kita dapat membiasakan kapan jadwal tidur dan kapan jadwal bangun. Gangguan umumnya terjadi bila terbang melewati lintas waktu (jetlag) atau bila suasana tidur berubah ketika tidur di kamar yang berbeda. Hal yang demikian ini bukan termasuk insomnia.
Sulit jatuh tidur lebih sering yang muncul kemudian. Mulanya tidak bermasalah dengan tidur, tiba-tiba menjadi susah tidur. Ini menjadi tanda kemungkinan adanya masalah jiwa. Orang yang akan terkena gangguan jiwa psikosis diawali dengan gejala susah tidur berbulan-bulan. Hal yang sama terjadi bila stres terus menerus merundung.
Bukan semata keletihan fisik, keletihan mental (chronic fatigue) juga membuat orang jadi sulit tidur. Kebiasaan masih berkonsentrasi pada tugas dan urusan pekerjaan sampai menjelang tidur malam akan menghambat proses jatuh tidur. Demikian pula bila berada dalam pengaruh nikotin dan kafein di sekitar jadwal tidur.
Semua kondisi mau jatuh sakit atau sudah menderita suatu penyakit, utamanya yang membuat tubuh tak nyaman, menjadikan pasien sulit tidur juga. Sebaliknya kasus penyakit menahun seperti penurunan fungsi ginjal, gangguan fungsi hati dan gangguan paru-paru menahun justru menjadi lekas dan gampang tertidur atau tidur lebih lama (hypersomnia).
 

Beda penanggulangannya
Beda penyebab insomnia, berbeda pula penanggulangannya. Kesulitan jatuh tidur memerlukan obat untuk membuat mudah jatuh tidur (sleep induced). Semua jenis obat tidur (hypnoticum) memerlukan resep dokter, tak bisa digunakan atas pilihan sendiri. Ada yang perlu digabung dengan obat penenang (transquillizer), ada yang hanya obat tidur. Dokter akan memilihkan jenis obat tidur yang mana.
Di antara jenis obat penidur, ada yang terbuat dari bahan alami, ada juga yang terbuat dari bahan kimiawi. Susu hangat dan pil hormon melatonin lebih alami ketimbang obat tidur kimiawi. Bila sudah terbantu oleh bahan yang alami, tak perlu obat kimiawi.Kasus insomnia dengan penyebab stres tentu memerlukan upaya intervensi menyelaraskan faktor kejiwaan. Pendekatan dapat dilakukan dengan psikoterapi selain obat.
Susah tidur dan tidur tak nyenyak sebab suatu penyakit, tidur akan pulih seperti sediakala kalau penyakitnya ditiadakan atau gejalanya diredam. Tak cukup obat tidur semata. Selama kasusnya bisa teratasi tanpa obat, tak perlu memilih obat tidur. Sekecil apa pun efek samping obat tidur, akan lebih baik jika tidak menggunakan obat tidur. Selain memikul efek samping yang tak perlu, kecanduan obat tidur akan menuntut dosis yang terus perlu ditinggikan dan hal itu tak boleh terjadi.***

Berita Terkait

Follow us and stay up to date on the latest news

SUBSCRIBE

PRODUK KAMI

Mitra

HUBUNGI KAMI

Senin – Jumat: 08:00 – 17:00
0800-1-800088 (Bebas Pulsa)
0818 06 800088 (sms & whatsapp)
@CombiCareCenter
51F0B55B / COMBICC